Review: V/H/S/94 (2021) - Kembalinya Horror Antologi V/H/S

 


Saat mulai mengetik tulisan ini, saya sendiri sudah merasa sangat ketinggalan untuk mereview film ini. Terlebih lagi, saya cukup kesulitan untuk mengatur jadwal sehari-hari untuk meluangkan waktu menuangkan segala pikiran saya ke dalam tulisan. Syukurnya, hari ini saya memiliki waktu sedikit senggang untuk menulis Review salah satu seri film antologi favorit saya, yaitu V/H/S. Saya sendiri sangat menyukai film horror antologi, yang mana dalam satu film memuat beragam ceirta entah itu saling berkaitan ataupun tidak. V/H/S sendiri mengusung tema antologi found footage yang mana sangatlah menarik perhatian saya, akhirnya berhasil membuat saya jatuh hati. Saya sendiri sudah menonton seluruh franchise V/H/S, dan V/H/S Viral terbilang sangat gagal untuk kembali membawa citra franchise V/H/S, dan apakah V/H/S/94 akan berhasil kembali menghidupkan Franchisenya lagi?

Sinopsis


Layaknya pendahulunya, V/H/S sendiri menceritakan mengenai sekumpulan kaset-kaset rekaman V/H/S yang berisikan video-video mengerikan serta brutal. Pada V/H/S/94 ini kita akan mengikuti sekelompok agen S.W.A.T yang tengah menyerbu sebuah organisasi mengerikan. Di tengah penyerbuan tersebut, para anggota S.W.A.T menemukan rangkaian penampakan mengerikan nan sadis, potongan-potongan tubuh yang berceceran dan tentunya empat rekaman V/H/S yang berisikan video yangtak kalah mengerikan dan brutal.

V/H/S/94 dan Konsep Jadul


Franchise V/H/S memang terkenal dengan penyuguhan ceritanya yang nampak seperti kumpulan video yang ditemukan di deepweb, yang tidak segan untuk memberikan terror yang nampak nyata. Terlebih lagi mengusung sebuah konsep orang-orang menemukan rekaman-rekaman mengerikan itu, membuat V/H/S tampil layaknya kumpulan urban legend ataupun creepypasta.

Namun, yang membuat V/H/S/94 ini berbeda dari para pendahulunya yang mana semakin lama tampilan gambarnya semakin bening adalah karena tampilan rekamannya yang kini nampak seperti rekaman jadul. Tentunya dengan tampilan ala-ala jadul tersebut, membuat rekaman V/H/S/94 mempunyai nilai creepy nya tersendiri.

Jika kita sudah dibuat merinding dengan tampilan gelap-gelapan, menyusuri suatu situasi yang tidak kita ketahui, tidak tau apa yang akan dihadapi di lorong gelap itu, V/H/S/94 memaksimalkan atmosfer kengeriannya dengan cara menyuguhkannya layaknya sebuah rekaman jadul. Dengan efek kamera bergoyang, layaknya film-film found footage pada umumnya, tentunya V/H/S/94 mempunyai sebuah titik unik untuk memainkan atmosfernya, yang sudah kuat dengan beragam cerita-cerita mengerikan dalam beberapa segmennya.

Ikatan Seluruh Rekaman

Kebanyakan film antologi hampir memiliki problematika yang sama, yaitu bagaimana mengikatkan seluruh cerita menjadi satu keseluruhan. V/H/S/94 sendiri menyuguhkan lima buah cerita; yang pertama adalah Holy Hell (disturadarai Jennifer Reeder) yang menjadi sebuah cerita yang mengikat dan akan menuntun kita menuju cerita-cerita berikutnya, Storm Drain (Disutradarai Chloe Okuno), The Empty Wake (disturadarai Simon Barrett), The Subject (Disutradarai oleh Timo Tjahjanto), dan yang terakhir adalah Terror (disutradarai oleh Ryan Prows).

Kelima cerita yang berbeda tersebut akan disuguhkan dalam satu film, dengan segmen Holy Hell sebagai pengikat yang akan menuntun kita dari satu segmen ke yang lainnya. Holy Hell sendiri menceritakan anggota S.W.A.T yang tengah menyerbu sebuah markas milik suatu cult atau kultus. Di dalam markas tersebut terdapat mayat-mayat yang dalam kondisi mengerikan, banyak pula darah dan potongan-potongan tubuh manusia ditemukan di dalam markas kultus tersebut. Dari situlah para anggota S.W.A.T. tersebut menemukan berbagai rekaman yang nanti akan menjadi segmen-segemen selanjutnya.


Seluruh segemen yang hadir pada film ini, memiliki keunikannya tersendiri, mereka menyuguhkan cerita yang berbeda dan konsep yang bervariasi. Storm Drain menyuguhkan cerita supranatural dan monster mengerikan dengan sentuhan klaustrofobik yang mana settingnya berada di suatu lokasi/situasi yang menyulitkan karakternya untuk menyelamatkan diri. The Empty Wake menyuguhkan cerita sederhana mengenai seorang wanita yang harus bermalam di rumah duka seorang diri, tentunya kembali menyuguhkan suatu konsep supranatural yang cukup mencekam. Kemudian kita digebrak oleh The Subject yang menyuguhkan body horror dan gore yang nampak ambisius, menceritakan seorang ilmuwan gila yang melakukan eksperimen terhadap manusia. Yang terakhir adalah Terror, menceritakan mengenai sekelompok pria yang tengah membuat ‘senjata rahasia’ untuk ‘menyelamatkan’ amerika, yang tentunya dibumbui oleh darah dan ledakan.

Segmen dengan Rasa Bervariasi


Dalam film antologi, seringakali kita menemukan segmen terlemah, terkuat dan favorit. Hal tersebut tentunya terjadi pada V/H/S/94 ini. Dari kelima segmen tersebut, dengan cerita berbeda, tentunya saya menemukan segmen favorit dan yang tidak saya sukai.

Segmen terlemah yang hadir dalam film ini sendiri adalah Holy Hell, yang mana merupakan segmen pengikat dan utama, bisa dibilang segmen inilah yang terpenting dalam setiap film V/H/S atau antologi semata. Karena segmen pengikat ini biasanya menjadi sebuah pembuka dan hadir sebagai penghubung. Jika penghubungnya lemah, penonton akan kesulitan untuk menikmati alur penghubung tersebut yang mana sebenarnya cukup penting.

Akting dalam segmen Holy Hell ini bisa dikatakn buruk, dialognya terasa tidak natural, alurnya pun berantakan. Padahal segmen ini sudah memberikan sebuah premis yang cukup menarik, kultus mengerikan nan misterius, dibumbui oleh beragam darah dan potongan tubuh manusia, menjadikan segmen ini pengikat yang cukup menyegarkan mata. Namun, masalah alur sendiri, segmen ini sangat amatlah lemah, ditambah dengan akting yang kurang membantu, membuat segmen ini semakin terjerembab ke dalam lubang. Pemupukan klimaks pada segmen ini pun terasa melempem, saat kita mendapati siapakah dalangnya dan apa yang sebenarnya kultus tersebut inginkan, konklusi yang disuguhkan nampak mengecewakan. Bahkan, saya sendiri berujar “Oh, gini doang?” meninggalkan Holy Hell dengan tugas yang berat sebagai pembuka dan pengikatdan gagal.

Beruntungnya, meskipun segmen pembuka/pengikat V/H/S/94 terbilang lemah sekali, segmen pengisinya tidak demikian. Segmen pengisi dalam V/H/S/94 sendiri memiliki kekuatan mereka tersendiri meskipun tentunya seidkit berbeda tingkatannya. Namun, segmen pengisinya tidak seburuk, sehampa dan seberantakan segmen Holy Hell.

Segmen pengisi dibuka dengan Storm Drain, yang mana cuplikannya sudah beredar dimana-mana, jadi mungkin sebagian pembaca sudah tau mengenai segmen ini. Segmen ini mengusung mengenai urban legend Ratman. Mengikuti seorang reporter dan kameramen untuk menyelidiki mengenai kebenaran urban legend tersebut. Tentunya penyelidikan mereka tidak berjalan mulus, urban legend yang mereka selidiki ternyata lebih mengerikan dari yang mereka kira. Dibalut layaknya sebuah peliputan yang berjalan buruk, storm drain memiliki kengeriannya tersendiri. Alurnya terbilang cukup sederhana, ada sebuah tujuan yang jelas dalam segmen ini, dan klimaks  yang mengerikan. Dengan alur yang sederhana Storm Drain berhasil untuk mewujudkan creepypasta dalam bentuk video. Dengan sinematografi yang cukup mengerikan dan pengambilan gambar cerdik, Storm Drain berhasil menjadi sebuah segmen yang sederhana namun membekas di otak.

The Empty Wake menjadi segmen dengan cerita lebih sederhana dari Storm Drain, dan merupakan segmen favorit saya. Segmen ini hadir dengan alur yang sederhana, seorang wanita yang bermalam di rumah duka untuk menunggu pelayat yang datang. Sederhana bukan? Namun pengeksekusian dari cerita yang sederhana ini sangat berhasil untuk mengemas horror nya. The Empty Wake hadir layaknya sebuah video di episode ‘Dunia lain’, hadir dengan video dari kamera yang digunakan untuk merekam pelayatan yang dilaksanakan malam itu, dan perpindahan video yang luwes, menjadikan segmen ini mudah dinikmati meskipun kerap berpindah point of view. Dengan cahaya yang minim dan lokasi yang tak berpindah, serta atmosfir yang lama-lama menjadi semakin mencekam, The Empty Wake berhasil untuk membuat merinding. Terlebih lagi dengan keheningan berbalut suara-suara minim, membuat atmosfernya semakin mencekam. Terlebih lagi sang protagonis utama yakin bahwa mayat yang berada dalam peti mati tersebut hidup, dibalut dengan misteri sederhana (mengenai sosok mayat tersebut), segmen ini berhasil menggebrak saat sudah mencapai klimaks yang amat mengerikan.

Kemudian segmen asal Indonesia, The Subject. Segmen ini sendiri sebenarnya bagi saya cukup ‘berbeda’ dari seluruh segmen yang hadir, sehingga saya merasa bahwa segmen ini sedikit membuat saya mengerinyitkan dahi saat menontonnya. Seluruh segmen yang hadir dalam V/H/S/94 ini dibalut dengan efek yang membuat rekamannya nampak seperti diambil pada tahun 90-an, namun segmen The Subject ini tidak melakukan hal tersebut, sehingga saya merasa bahwa segmen ini sedikit menghancurkan keseluruhan konsep. Terlebih lagi, segmen ini hadir dengan durasi paling panjang dan cerita paling ‘kompleks’. Jika kedua segmen sebelumnya masih berhubungan dengan hal supranatural, segmen ini malah sedikit ‘modern’ dengan percobaan manusia robot. Saya sendiri sebenarnya cukup terhibur dengan action yang hadir dalam segmen ini, bahkan bisa dibilang alurnya sangat menghibur, unsur darah, body horror dan gore  yang hadir pun sangat memuaskan mata. Namun kembali lagi segmen ini terlalu out of the box sehingga nampak tidak berada pada film V/H/S/94.

Kemudian yang terakhir adalah segmen Terror sebagai segmen pengisi terakhir. Sebenarnya segmen ini memiliki alur yang cukup unik dan menarik, konsep vampir dalam segmen ini pun terbilang menyegarkan. Terlebih lagi, segmen ini dicampur dengan bumbu aksi dan body horror, yang tidak jauh berbeda ketimbang segmen sebelumnya. Namun, meskipun begitu, segmen ini nampak terasa terburu-buru, sehingga klimaks yang dibangun nampak kurang maksimal.

Kesimpulan

V/H/S/94 hadir sebagai penerus dari pendahulunya yang gagal (iya kamu V/H/S Viral), dan kali ini berusaha untuk kembali membangkitkan kembali V/H/S dan bagi saya hal tersebut berhasil. V/H/S/94 berhasil kembali menunjukkan kengerian dan hal-hal absurd yang ada pada pendahulunya. Dengan bereagam ide dari lima sutradara yang berbeda, menghasilkan lima ragam cerita yang menakutkan. Kelima segmen ini sendiri hadir dengan formula tersendiri, dan tentunya tak semua segmen tampil maksimal. Segemn terburuk adalah Holy Hell dan segmen favorit saya sendiri adalah The Empty Wake. Terlepas dari hal tersebut, V/H/S/94 berhasil menyuguhkan segmen memorable dan membuat merinding, sehingga V/H/S/94 berhasil menghibur.

Rating


55%



Komentar