Review: Antlers (2021)- Terror Monster Folklore dengan Potensi Kurang Matang

Setelah sekian lama saya tidak menulis, akhirnya saya dengan sedikit berat mencoba untuk kembali mencurahkan perasaan saya mengenai film-film horror yang saya tonton. Meski memang sudah telat, tapi tidak apa daripada tidak sama sekali bukan? Di tengah kesibukan saya, beruntungnya saya sempatkan untuk menonton film horror yang pertama saya tonton di tahun 2022 ini, Antlers. Setelah sekian lama diundur, awalnya ingin dirilis tahun 2020, namun baru terwujud pada tahun 2021 dan tahun 2022 di Indonesia. Antlers merupakan salah satu film yang saya tunggu-tunggu, setelah kemunculan trailernya pada tahun 2019. Akhirnya, kini saya bisa menontonnya.

Sinopsis

Antlers (2021), menceritakan mengenai Julia (Keri Russel), yang merupakan seorang guru di sebuah sekolah menengah pertama, di sebuah kota kecil di Oregon. Julia yang hanya tinggal bersama saudaranya, Paul (Jesse Plemons), masih dihantui oleh traumanya saat masih kanak-kanak.

Suatu Hari, Julia menyadari salah satu muridnya, Lucas (Jeremy T. Thomas), menunjukkan gelagat yang cukup mencurigakan. Julia pun menemukan beberapa luka-luka pada tubuh Lucas, yang diduga merupakan bentuk perilaku abusif sang ayah. Julia yang mencoba membantu Lucas keluar dari siksaan itu mulai menyelidiki Lucas, namun apa yang Julia temukan ternyata lebih mengerikan.

Nuansa Kelam yang Mendominasi

Antlers yang merupakan film arahan Scott Cooper, sangat kental akan nuansa kelam yang menyelimuti sepanjang filmnya. Terlebih lagi, setting yang digunakan merupakan sebuah kota kecil di Oregon yang digambarkan sama sunyi, kelam dan melankonisnya. Sehingga setting yang sudah disediakan sepanjang durasi ini sangat cocok dengan cerita yang akan disampaikannya.

Kita sendiri akan mengikuti dua perspektif, Julia dan Lucas, yang masing-masing memiliki konflik internal tersendiri. Yang mana konflik tersebut sama-sama berakar dari keluarga masing-masing. Di mana dikarenakan rasa trauman mendalam yang dialami Julia, membuatnya merefleksikan trauma tersebut pada Lucas, mendorong Julia melakukan apa saja demi menyelamatkan Lucas. Pada akhirnya menggiring Julia pada monster foklor mengerikan yang ia hadapi.


Antlers sendiri tidak menggunakan Jumpscare layaknya film-film horror pada umumnya. Namun, Antlers mengedepankan nuansa yang menggigit dan mencekam dengan maksimal, tanpa perlu menggunakan jumpscare ‘biasa’. Film arahan Scott Cooper ini cukup piawai dalam menutupi misteri yang ada. Meskipun di awal kita sudah tau sosok apa yang akan menjadi mengancam karakter utama, tetap saja kita tetap digiring sampai pinggir tanpa menyelam mencari tau lebih dalam tentang ‘musuh’ utama film ini.

Scott Cooper selaku sutradara pun, piawai memainkan timing filmnya. Tau dimana dan kapan memunculkan musik-musik yang akan membuat scene tersebut semakin tegang dan menakutkan tanpa harus memunculkan suara keras untuk membuat para penonton terkejut. Tanpa jumpscare pun film ini sudah menakut-nakuti lewat alur yang kelam dan penuh kepingan puzzle yang belum disusun.

Monster dan Darah yang Menghiasi Layar

Antlers tak hanya berpegang teguh pada nuansa saja. Saya akui, pengambilan gambar pada film ini sangat indah dan aesthetic, bahkan saat melihatnya pun saya terkagum-kagum meski terkadang merinding, begitu indah nan kelam. Dengan sinematografi yang amat sangat indah tersebut, Scott Cooper nampak tau apa yang membuat sinematografinya semakin indah, yap darah dan monster.

Dengan nuansa yang sudah kelam sejak awal film dimuai, kita akan disajikan dengan darah dan sosok monster yang terbilang cukup mengerikan. Bahkan gore  dalam film ini pun terbilang brutal, yang mana seluruh aspek tersebut jika disajikan menjadi sebuah sajian yang cukup mengerikan dan mencekam. Beruntungnya Scott Cooper tau waktu yang pas untuk kapan menampilkan gore yang cukup brutal itu, sehingga tidak terlalu menganggu dan sangat efektif untuk menakut-nakuti para penonton lewat gore dan nuansa kelam yang seimbang.

Gore yang ditampilkan pun tidak sekadar darah yang muncrat kemana-mana, namun body horror yang ditampilkan memiliki peran tersendiri, untuk menunjukkan situasi yang tengah dihadapi oleh para karakter dalam film ini, bukanlah situasi yang mudah bagi mereka, bisa saja mereka tidak selamat.

Sosok monster yang dihadapi oleh karakter utama pun tidak ditampilkan begitu jelas, Scott Cooper nampak ingin tetap menyembunyikan wujud asli dari monster tersebut. Meski bisa kita lihat beberapa wujud ‘monster’ tersebut dari beberapa karakternya yang ternyata sudah mulai memiliki gelagat tak manusiawi, kita tidak pernah melihat monster tersebut secara penuh hingga babak akhir. Sehingga bisa digambarkan bahwa karakter utama tidak benar-benar mengenal dan tau monster yang sebenarnya mereka hadapi ini.

Monster yang ada dalam film ini pun muncul dengan sangat indah. Berbalut monster foklor yang muncul dari legenda-legenda mengerikan, film Antlers ini berhasil menggambarkan dan menyuguhkan sosok monster yang benar-benar mengerikan sekaligus ‘indah’. Sehingga, saat monster ini muncul secara jelas, saya sendiri dibuat kagum oleh betapa mengerikannya monster tersebut. Penggunaan gore, monster, body horror dan nuansa yang sangat pas ini, menambah poin plus yang cukup besar bagi film Antlers. Terlebih lagi scoring nya sangatlah pas.


Potensi yang Terbuang Sia-sia

Dibalik nuansa, gore dan monster yang saling melengkapi satu sama lain, film Antlers cukup lemah dalam alurnya. Antlers sendiri memang memiliki pace yang cukup lambat, dan di awal hadir layaknya sebuah film horror psychology, ketimbang monster horror. Bahkan pada awal film, saya malah sangat yakin film ini akan menjadi sebuah film horror alegori, yang akan bermain dengan suasana dan penggambaran ambigu. Namun, saya salah.

Film Antlers, nampak ingin menjadi sebuah film alegori namun saling menabrak dengan konsep supranatural yang dihadirkan lewat monster wendigo dalam film ini. Babak awal hingga babak kedua, film ini sangat kental sebagai film horror misteri yang merupakan sebuah alegori dari suatu problematika, layaknya film The Dark and The Wicked. Namun, jika dikatakan sebagai film alegori secara utuh pun tidak bisa, karena ada beberapa penggambaran aspek yang cukup gamblang dan saling berbenturan, layaknya monster yang ada. Sehingga film ini nampak kebingungan untuk mencampur kedua elemen tersebut, supranatural dan alegori.

Karakter yang hadir dalam film ini pun sebenarnya sudah digambarkan dengan cukup baik, bahkan para aktor maupun aktrisnya memainkan peran mereka dengan sangat baik, sehingga memunculkan karisma dan ikatan yang pas antar karakternya. Namun permasalahannya muncul pada karakter yang perkembangannya kurang.

Film Antlers nampak lebih fokus untuk mengutamakan apa yang ingin disampaikan lewat ceritanya, namun membuatnya lupa untuk melakukan pengembangan pada karakter-karakternya. Bahkan, backstory mengenai karakternya pun dirasa terlalu nanggung, sehingga kita tidak bisa secara maksimal mengenal karakter tersebut, meskipun mereka memang tampil dengan baik.

Dengan pace yang cukup lambat ini, kita merasa tidak begitu mengenal karakter-karakter ini, padahal pace nya sudah lambat. Namun, bisa saja Scott Cooper selaku sutradara, sengaja membuat latar belakang para karakter ini ambigu, namun hal tersebut nampak cukup menganggu, mengingat alegori yang hendak ditampilkan oleh film ini sangat erat berkaitan dengan masing-masing karakternya. Sehingga hal ini yang nampak seperti menarik turun film ini  menjadi sebuah film yang sangat bagus.


Kesimpulan

Pada akhirnya, Film Antlers ini hadir sebagai film horror yang menyegarkan mata di awal tahun 2022 bagi saya. Dengan atmosfer yang sangat kelam, ditambah lagi timing yang pas untuk memaksimalkan kengerian film ini, melambungkan film ini sebagai film yang sangat dinikmati. Film ini pun nampak membuktikan bahwa tidak perlu jumpscare untuk menunjukkan kengerian yang hadir, dan memang bekerja dengan sangat baik.

Namun, sangat disayangkan, kelemahan terbesar film ini hadir pada konsep dan potensi yang saling tabrak-menabrak. Yang mana film ini nampak ingin hadir sebagai film alegori mengenai suatu problematika kekerasan dalam keluarga, namun hal tersebut terbentur dengan unsur supranatural yang cukup kental. Membuat potensi besar film ini redup dan gagal muncul ke permukaan. Karakternya pun tidak dikembangkan secara matang, yang mana merupakan unusr terpenting, mengingat segala alegorinya memang berkaitan erat dengan para karakternya.

Namun tetap Antlers masih bisa dinikmati oleh kalian yang sangat mencintai film dengan nuansa kelam dan gore yang mantap.

Rating

55%

Komentar