Review: Malignant (2021)

 



Madison (Annabelle Wallis) diteror oleh sesosok pembunuh yang telah menghabisi suaminya (Jake Abel) dengan sangat sadis. Terror tersebut nampak tidak pernah berhenti dan lambat laun menjadi semakin parah saat Madison mendapati bahwa ia secara tidak sadar memiliki ikatan dengan sang pembunuh. Madison ditemani adiknya, Sydney (Maddie Hasson), mencoba untuk menguak misteri dan terror yang tiada hentinya menghantui Madison.

Saat saya mendapati berita mengenai film Malignant yang akan rilis dan tentunya melihat nama James Wan kembali terpampang dan duduk di kursi sutradara, saya langsung sangat sangat menantikan film Malignant. Terlebih lagi, James Wan merupakan salah satu sutradara horror favorit saya, melihat dirinya kembali duduk di kursi sutradara film horror, setelah ia menghabiskan waktu duduk sebagai produser dan membiarkan rekannya mengarahkan film-film yang ia produseri, sumringahlah saya melepas kangen sejak The Conjuring 2 untuk menikmati kembali film horror yang ia sutradarai.

Sebuah surat cinta untuk film-film horror lawas mungkin yang bisa saya deskripsikan untuk film Malignant ini. Dari opening yang disuguhkan, kita langsung melihat bagaimana sebuah terror benar-benar mengusik karakter utama tercinta kita. Bisa dibilang juga bahwa mungkin film ini juga merupakan surat cinta pada film-film milik beliau sendiri, James Wan, yang dahulu ia garap. Saya langsung flashback pada opening yang cukup ikonik dalam film Dead Silence saat melihat bagaimana sang karakter utama tanpa basa basi dihadapkan pada situasi mengerikan yang sukses membuat saya cukup terlonjak di kursi. Pembuka ini sendiri cukup sukses untuk membuka kembali sebuah gerbang besar kepada terror khas James Wan.

Film ini sendiri dibuka dengan sebuah eksperimen yang dilakukan disebuah rumah sakit pada tahun 1993 dan nampaknya eksperimen tersbeut tidak berjalan dengan lancar, dan inilah awal pertama kita dikenalkan pada sebuah entitas mengerikan yang akan menjadi musuh utama dalam film ini. Kemudian, kita akan dilempar ke Madison yang tengah berada dalam konflik dalam hubungannya dengan sang suami yang nampaknya tidak menginginkan kehamilan Madison. Perkelahian tersebut pun menjadi awal mula bagaimana Madison dan suaminya diserang oleh sosok jahat tersebut, dan berujung pada terror tanpa ujung pada Madison yang mana perjalanannya mencoba untuk menguak sosok jahat tersebut akan lihat sepanjang film.

Jujur saja, saat film ini dimulai saya cukup kaget mendapati terror utama dalam film ini langsung dipersembahkan sedari babak awal, terlebih lagi pada pembukaan. Kita sudah tau sosok jahat apa dan yang bisa ia lakukan terhadap Madison yang malang. Awalnya saya sendiri cukup pesimis dan kecewa akan hal ini, karena mungkin saya sendiri cukup kaget dengan suguhan yang cepat ini dan tentunya tidak menyangka bahwa konflik besarnya akan dibawa secepat ini. Terlebih lagi, akhir-akhir ini saya menghabiskan banyak waktu untuk lebih menonton film horror yang slow-burn, yang mana kita tidak secara langsung dihadapkan pada konflik besarnya, pelan-pelan cerita dikupas agar kita mengetahui apa sih yang benar-benar mengancam nyawa sang karakter dalam film tersebut. Namun nampaknya James Wan lebih mengusung tema ‘kenapa’ ketimbang ‘apa’, karena dalam babak awal kita sudah diberi informasi mengenai Madison dan rahasia kecilnya, dan tentunya hal ini akan mengekor pada hubungannya dengan sang sosok jahat yang menghantuinya, seakan-akan ia memiliki ikatan kuat dengan Madison. Bahkan ikatan kuat tersebut semakin dipertegas dengan bagaimana Madison bisa mengetahui siapa yang sosok tersebut bunuh dalam mimpinya.

Kita sudah diberitahu secara gamblang mengenai konflik besarnya, dan kali ini kita disuruh untuk melihat mengapa si sosok jahat tersebut mengikat dirinya dengan Madison dan alasannya hal tersebut bisa terjadi. Dengan alur yang sudah cukup gamblang, James Wan tetap berhati-hati untuk tidak membeberkan misteri yang hadir. Karena meskipun alur dalam film ini sendiri sudah cukup gamblang dibuka, namun misteri yang hadir dalam film ini nampak seperti bersembunyi dibalik lembaran-lembaran alur tersebut, sehingga meninggalkan kejanggalan dalam hati dan pertanyaan demi pertanyaan yang hadir sepanjang durasi. Akan sangat sulit bagi saya untuk menjelaskan misteri dalam film ini, karena misteri yang hadir sendiri akan menjadi sebuah spoiler berat pada alur film ini, mengingat film ini berpusta pada hubungan Madison dan entitas tersebut dan menjadikannya misteri terbesar. Maka saya sebisa mungkin untuk menggali sangat dalam mengenai hal ini.

Gabungan Thriller dan Horror dalam film ini bisa dibilang cukup seimbang, mengingat film ini nampaknya tidak 100% supranatural. Akan banyak adegan pembunuhan sadis berdarah-darah, James Wan nampaknya tidak pelit untuk mengeluarkan bergalon-galon darah pada film Malignant ini. Jika di babak pertama saya cukup yakin bahwa James Wan akan kembali mengusung tema Supranatural layaknya karya sebelumnya, dalam babak dua asumsi saya langsung dipatahkan. Babak kedua film ini akan lebih condong kepada alur misteri, Thriller ala-ala detektif namun tidak begitu kental pula. Kita akan mendapati kejar-kejaran Detektif Kekoa Shaw (George Young) dengan sosok jahat yang sadis tersebut. Pada babak kedua ini pikiran kita mulai dimainkan, apakah Madison dan sosok jahat ini bekerja sama? Atau Sosok jahat tersebut nyata atau tidak? Entahlah. Plot Twist yang disuguhkan dalam film ini benar-benar mencengangkan dan tidak diduga-duga oleh saya, dan ini menjadi sebuah poin plus pada Malignant.

Ambiguitas atas wujud sosok jahat ini menjadi sebuah senjata utama James Wan dalam mempermainkan pikiran dan kepercayaan para penonton atas informasi yang mereka dapatkan sepanjang film berjalan. Terlebih lagi kita akan ditunjukkan situasi dream-like yang dialami oleh Madison dan membuatnya melihat apa yang dilakukan sosok jahat tersebut, membuat eksistensi sosok jahat tersebut menjadi kabur. Permainan misteri yang sangat kuat dan rapih ini menjadi poin yang cukup besar bagi Malignant, karena disuguhkan dengan cukup rapih dan perlahan. Meskipun alurnya terbilang gamblang, kita sendiri tidak lupa untuk dibuat bingung dengan eksistensi dari sosok Jahat tersebut. Namun, film ini sendiri nampak seperti kebingungan dengan apa yang akan disuguhkan dalam alurnya, Malignant seperti ingin melakukan banyak hal denga mengumpulkan banyak trope horror dan memasukkannya ke dalam film. Sehingga saya sendiri cukup terganggu dengan nuansa-nuansa yang kerap berganti, bahkan genre nya pun berganti seiring babak dimulai. Dialog yang dilontarkan oleh karakter-karakternya juga terkesan agak kaku, dan melontarkan informasi yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi karena toh kita sudah melihatnya secara langsung dalam scene nya. Kemudian saat adegan Madison menceritakan rahasia kecilnya pada sang adik, dialog yang dilontarkan Madison sendiri nampak seperti hampa dan datar saja padahal kita saat itu diberitahu sebuah informasii yang sangat penting, namun penyampaian dialog tersebut malah terkesan out of nowhere.

Aktor dan Aktris yang hadir dalam film ini pun sudah memberikan performa terbaik mereka untuk membawakan karakter mereka masing-masing, saya akui akting mereka pun tidak jelek. Tapi, beberapa scene membuat akting mereka sangat jelek, membuat saya mengerinyitkan dahi saya saat melihatnya. Hal ini kembali dikarenakan oleh dialog yang terlalu menjabarkan sesuatu yang terjadi, seperti saat itu seorang detektif bertanya pada Madison “Jadi dia teman khayalanmu?” padahal sudah jelas-jelas kita disuguhkan oleh Madison yang tengah dihipnotis agar kembali menguak memori masa lalunya, dan dari scene tersebut kita sudah diberitahu mengenai sosok jahat tersebut dan wujudnya. Beberapa guyonan pun dicoba untuk dilontarkan oleh karakter-karakternya, namun guyonan yang dilontarkan tersebut terasa sangat kaku dan garing. Beberapa scene yang seharusnya mengerikan pun berhasil membuat saya tertawa kecil, dan saya sendiri tidak tau mengapa mendapati scene tersebut lucu. Mungkin karena eksekusinya yang kurang matang sehingga apa yang ingin disuguhkan jadi missed.

Meskipun begitu, James Wan tidak ragu untuk memberikan jumpscare yang cukup apik. Ia tidak memerlukan suara kencang yang memekakan telinga untuk mengejutkan penonton. Permainan atmosfer yang ia bangun sangat sangat cukup membuat para penonton sukses terkejut dengan jumspcare nya yang tidak lebay. Bahkan berhasil juga membuat saya kaget dan parno. Permainan kamera dan sinematografi dalam film ini sendiri menjadi pendukung yang sangat besar dalam kengerian atmosfer yang dibangun pada film ini. Saya sangat akui, sinematografi dalam film ini begitu indah untuk menangkap segala kengeriannya, sehingga benar-benar memberikan kesan mencekam dan sukses untuk menyampaikannya pada penonton. Scoring yang dihadirkan pun cukup bagus, meski saya cukup terganggu dengan scoring nya. I mean, ayolah kenapa harus menggunakan lagu Where Is My Mind dari Safari Riot disaat yang benar-benar menegangkann atau mencengangkan? Hal ini seperti saling bertentangan, mengingat yang diambil pun bukan bagian instrumen yang benar-benar mensdeskripsikan ‘horror’ atau ‘thriller’ sehingga scoring nya seperti berantakan dan tidak menendang.

Secara keseluruhan, Malignant hadir dengan cukup menghibur. Misteri yang hadir dalam film ini pun benar-benar disuguhkan dengan rapih, sehingga plot twist nya pun bekerja dengan baik dan sukses mengejutkan orang-orang. Namun yang membuat film ini kurang adalah dialog dan penceritaannya yang cukup berantakan, alurnya nampak ingin memasukkan banyak hal kedalam filmnya, dialognya seperti memberikan informasi terlalu banyak dan tidak perlu, seperti memberikan penegasan kembali atas apa yang terjadi, padahal aku yakin bahwa penonton sendiri sudah diberikan narasi lewat adegan demi adegan yang berlangsung dan cukup gamblang, sehingga informasi yang dilontarkan oleh karakter tersebut sangat-sangat tidak diperlukan.

Rating


55%

Komentar